Aku Gendut Terus Kenapa ? Inilah 6 Salah Kaprah Memandang Orang Berbadan Gemuk

Marsha Coupe, seorang perempuan di salah satu negara di Britania Raya memiliki pemaknaan lain tentang kegemukan yang ia alami. Dilaporkan Dina Rickman dalam Telegraph.co.uk, (20/4/2014), Marsha tergolong perempuan dengan berat badan berlebih. Namun ia memiliki pemaknaan sendiri tentang ukuran badan yang ia punya.

"Obesitas itu bahasa medis. Gendut itu ukuran. Aku memang gendut, terus kenapa ? Itu bukan kata kata yang buruk" kata Marsha. Berkomentar ihwal perlakukan masyarakat terhadap orang dengan berat badan berlebih, Akademisi York University, Dr. Ann Kaloski Nalylor yang menulis buku persoalan berat badan dari segi keilmuan di Britania Raya, lebih memilih menggunakan kata "Fat Activism" daripada "Fat Acceptance" . Bagi seseorang dengan berat badan berlebih, "Fat Acceptance" dapat terdengar sedikit pasrah, sedangkan "Fat Activism" lebih pada pengakuan bahwa semua jenis tubuh baik baik saja.

Dengan catatan, ada usaha untuk terus meningkatkan kesehatan dalam kesehariannya. Memiliki berat badan berlebih bagi sebagian orang sering menurunkan tingkat kepercayaan dirinya. Hal tersebut disebabkan karena penilaian dini, singkat, dan terkadang absolut dari masyarakat yang memandang gendut dengan sebelah mata.

Menjadi kurus atau ideal bukan berarti memiliki moral yang baik. Banyak pencuri, pembunuh, dan pemerkosa dengan badan yang biasa saja. Menjadi gendut juga bukan berarti kamu bermoral buruk.

Namun juga tidak selamanya kamu bermoral baik. Gendut bukanlah ukuran baik atau buruknya moral seseorang Sebagian media mainstream dengan animasi kartun yang memiliki berat badan berlebih selalu menggambarkan bahwa orang yang gendut adalah serakah.

Dalam penggambarannya, gendut selalu diartikan sebgai orang yang tak peduli dengan masalah kelaparan di dunia. Mereka digambarkan selalu serakah terhadap kekayaan dan kemakmuran bagi dirinya sendiri. Padahal, realitas tersebut tidak selamanya benar.

Banyak orang orang gendut yang menjadi aktivis urusan pangan dan kelaparan di dunia. Ketertarikan antarmanusia satu dengan lainnya adalah bersifat subjektif. Jika kamu menjumpai seseorang yang mengejekmu jelek hanya karena kamu gendut, maka cobalah berpikir lebih jernih.

Banyak suatu hubungan terbentuk bukan dari ukuran badan. Tidak ada orang yang dapat mendefinisikan "bagus" ataupun "jelek" secara absolut dari segi estetika. Hal tersebut terjadi karena tidak ada satu orang pun yang dapat menghakimi orang itu jelek, ketika orang tersebut bagus di mata orang lainnya.

Justifikasi gendut itu jelek juga terjadi karena pengaruh media mainstream yang menampilkan bahwa bagus, cantik, ganteng, itu harus berbadan yang ideal. Memang banyak media yang menangkap koruptor yang memiliki perawakan gendut. Namun demikian, hal tersebut tidak dapat dinilai sebagai tanda tanda seseorang itu korup.

Banyak pejabat yang tidak gendut yang juga ikut ditangkap karena kasus korupsi. Selain itu banyak aktivis antikorupsi yang gendut. Jomblo adalah istilah yang sering digunakan untuk mengistilahkan seseorang yang belum atau tidak memiliki pasangan (lebih terdengar olokan).

Jangan khawatir, gendut atau tidaknya kamu, tidak ada hubungannya dengan ada atau tidaknya seseorang yang menemanimu sebagai pasangan. Bagi sebagian masyarakat, orang gendut digambarkan dengan seseorang yang malas. Mereka ditampilkan sebagai seseorang yang hanya berada di depan layar televisi atau ponsel mereka, tidak melakukan kegiatan apapun, dan hanya berbaring.

Justifikasi yang telah terbiasa ini sesungguhnya miskonsepsi. Banyak orang orang dengan badan tidak gendut yang bermalas malasan. Sedangkan banyak pegiat sosial aktif yang memiliki ukuran badan berlebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *